|
Perubahan iklim yang tidak menentu akhir-akhir ini menyebabkan Kota Pariaman kerap dilanda angin kencang atau hujan badai. Kondisi ini membuat masyarakat cemas sehingga lebih memilih berdiam diri di rumah. Terlebih warga korban gempa, harus bertahan di tenda-tenda darurat.
“Kami berharap Pemko segera membangun rumah permanen bagi korban gempa. Tenda darurat ini takut copot dihantam hujan badai,” ujar Mus, warga Lohong. Dari pantauan Padang Ekspres di lapangan, setiap kali hujan badai, tidak sedikit tenda-tenda warga korban gempa rusak diterbangkan angin. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain bertahan di tenda-tenda itu dalam keadaan basah kuyup. Kondisi itu telah dilalui warga korban gempa tiga bulan lebih, sehingga rawan terserang penyakit sanitasi. Anggota Komisi B DPRD Kota Pariaman, Aris Munandar berharap kepada walikota atau dinas terkait dilingkungan Pemko secepatnya mengambil tindakan konret, membangun rumah darurat. Buruknya cuaca sejak seminggu terakhir, Wali Kota Pariaman Mukhlis Rahman mengimbau nelayan untuk meningkatkan kewaspadaannya. “Jika angin badai, sebaliknya tidak usah melaut dulu,” kata Mukhlis. Kepala Kesbang Pol Linmas, Budi Utama menambahkan, “Kami telah menyosialisasikan kepada setiap desa dan kelurahan agar proaktif melaporkan setiap peristiwa yang terjadi. Kami bersedia membuka waktu 24 jam untuk menerima laporan masyarakat, khususnya melalui handphone,” terangnya. Manfaatkan Air Hujan Di Padang Pariaman, sudah lebih dari tiga bulan pasca gempa, 25 Kepala Keluarga (KK) warga Korong Lubuk Laweh, Nagari Tandikek, kecamatan Patamuan masih bertahan di tenda-tenda darurat. Di dalam satu tenda, dihuni lebih dari tiga KK. Hampir 15 tenda masih didiami warga. “Sungguh tak terbayangkan betapa sulitnya kehidupan warga,” tandas Wali Korong Lubuk Laweh, Indra Dunianda kepada Padang Ekspres Sabtu (9/1). Saat ini, warga yang masih tinggal di korong Lubuk Laweh berjumlah 160 KK. Sebagian besar warga juga sudah banyak yang mengungsi. “jika ditotal, lebih kurang sudah 480 KK yang mengungsi, “ sebutnya. Selain kondisi tempat tinggal yang tak layak, penderitaan warga semakin bertambah dengan sulitnya mendapatkan air bersih untuk mandi cuci kakus (MCK). Selama ini, warga hanya memanfaatkan air hujan. |