|
Solok Selatan, Singgalang Senin, 1 Desember 2008 Anggota DPRD Solok Selatan mempertanyakan izin Kuasa Penambangan (KP) PT Wira Patriot Sakti (WPS). Izin KP yang dikeluarkan bijih besi, namun yang ditambang malah tembaga.
Hal itu terungkap saat DPRD Solsel melakukan KUnker ke daerah pemilihan Sungai Pagu, Koto Parik dan Pauh Duo yang dipimpin Ir. Mirhas. Pertambangan milik PT.WPS berada di sungai Pangkua. Salah seorang anggota dewan Hendri Rose langsung mempertanyakan izin KP No 590/07/KP/PPLMH/Bup-2006 tersebut kepada Wakil Pimpinan PT.Wira Patriot, Aliong, saat melakukan pertemuan. “Sepengetahuan kami bijih besi ditumpuk dan memakai lokasi yang cukup luas. Tetapi sejak PT WPS beroperasi, bijih besi itu menghilang. Pekerjaan berlanjut pembuatan terowongan untuk menambang tembaga. Padahal izin yang dikeluarkan bijih besi. Kita perlu persoalkan ini ke Dinas Pertambangan,” ujar Hendri. Selain itu menurut Hendri Rose perusahaan tersebut seringb membohongi masyarakat sekitar. Buktinya banyak pengamanan dari aparat. Masyarakat tidak dibenarkan masuk lokasi, hanya sebatas pintu gerbang saja, kalau masuk diusir pihak keamanan. Anggota DPRD yang lain Andison juga mempertanyakan banyaknya pemakaian tenaga kerja asing sejak digarapnya lahan di Sungai Ipuah PT WPS. “Perusahaan ini tidak memasang plang merek. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)nya belum keluar. Kami khawatir banyak sawah masyarakat yang akan rusak akibat penambangan” ujar Andison. Aliong Wakil Pimpinan PT.Wira Patriot Sakti dalam pertemuan itu mengaku, pihaknya dulu memang mengurus KP bijih besi. Namun setelah berjalan beberapa bulan, bijih besi tersebut tidak memenuhi persyaratan. “Di tengah perjalanan kami menenukan beberapa contoh tembaga dan layak untuk di tambang. Sehingga kami mengalihkan pekerjaan dan membuat terowongan. Luas KP untuk eksploitasi sekitar 5000 hektare,” jelas Aliong. Ia juga mengaku tidak pernah mengangkut bijih besi keluar dari areal pertambangan. Bijih besi tersebut masih ada di lokasi. Dulu memang ada sekitar 500 ton, namun karena bijih besi tersebut berat terbenam lagi ke dalam tanah. Untuk tenaga kerja menurut Aliong memang banyak dari luar seperti Beijing, Cina. Pihaknya sengaja merekrut mereka karena memiliki keahlian membuat terowongan. “Kami juga memakai tenaga lokal sekitar 50 orang,” tambahnya. Mengangkut kompensasi bagi yang punya lahan sudah diberikan. Namun untuk kompensasi penambangan memang belum dibayarkan karena bijih besi tersebut belum menghasilkan. Penambangan tembaga pun baru dalam proses penggalian terowongan sepanjang 150 meter dan belum ditemukan. |